MAKASSAR, SULSEL — Indonesia sedang berada pada persimpangan sejarah yang menentukan. Setelah 80 tahun lebih merdeka, negeri ini masih bergulat dengan masalah yang sama kesenjangan ekonomi, ketidakadilan sosial, birokrasi korup, dan elite politik yang abai terhadap nasib rakyat. Kamis (11/09/2025).
Rakyat yang turun ke jalan bukanlah tanda anarki, melainkan tanda demokrasi yang gagal menjawab kebutuhan dasar. Gelombang protes yang terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, adalah cerminan kemarahan rakyat yang sudah terlalu lama dipinggirkan.
Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Se-Sulawesi Selatan hadir untuk menyuarakan dengan lantang: rakyat tidak bisa terus menerus dibungkam dengan imbauan damai semu. Perdamaian sejati hanya lahir dari keadilan, koreksi, dan keberpihakan nyata terhadap rakyat
Gerakan kami tidak lahir dari euforia sesaat. SEMMI Se-Sulawesi Selatan telah menyerahkan maklumat resmi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai bukti bahwa perjuangan ini bukan sekadar teriakan jalanan, melainkan sikap politik-moral yang serius dan konstitusional. Pungkas idam (Kabid kemahasiswaan & Kepemudaan PW SEMMI SULSEL)
Maklumat ini berisi koreksi mendasar terhadap situasi bangsa, penegasan sikap mahasiswa terhadap demokrasi yang cacat, Seruan moral untuk menegakkan keadilan sosial, Tuntutan konkret bagi pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun pusat & dengan menyerahkan maklumat, SEMMI menunjukkan jalan tengah: kami membuka pintu dialog, tetapi kami juga menyiapkan jalan perlawanan apabila maklumat ini hanya dianggap sebagai formalitas birokrasi
SEMMI menegaskan, sejarah Indonesia selalu digerakkan oleh mahasiswa dan rakyat. 1966: Tritura mengguncang fondasi kekuasaan yang korup. 1974: Malari menolak penetrasi modal asing yang mencabik kedaulatan bangsa. 1998: Reformasi menumbangkan rezim otoriter dan membuka pintu demokrasi. 2025: Mahasiswa kembali dipanggil sejarah untuk menyelamatkan demokrasi dari kehancuran akibat oligarki politik dan lemahnya institusi publik.
Kami bukanlah pewaris diam. Kami adalah pewaris perjuangan. Maka, menyerahkan maklumat adalah bentuk kesetiaan kami pada sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia.
Narasi “mari jaga kedamaian” yang terus diulang pemerintah adalah tipu daya politik jika tidak dibarengi keberanian melakukan koreksi. Kedamaian tanpa keadilan hanya akan memperpanjang penderitaan. Sejarah membuktikan, bangsa tidak runtuh karena rakyat berteriak, tetapi karena pemerintah tuli terhadap suara rakyat.
Kami tegaskan: menolak kekerasan bukan berarti menolak perlawanan. Perlawanan adalah hak rakyat ketika ruang keadilan ditutup.
Dengan ini kami menegaskan 10 tuntutan strategis dalam maklumat, Kami menuntut Pemprov Sulawesi Selatan untuk:
Menjadi penyambung aspirasi rakyat Sulsel, bukan sekadar perpanjangan tangan pusat, Membaca maklumat kami sebagai dokumen serius, Segera mengambil sikap politik jelas yang berpihak pada rakyat, bukan pada elite & Jika Pemprov Sulsel gagal menjalankan amanah ini, maka rakyat Sulsel akan mengingat pengkhianatan tersebut sebagai noda sejarah.
Gerakan SEMMI berdiri di atas tiga kaki:
Gerakan Intelektual: Mengkaji dan menganalisis persoalan bangsa dengan data, riset, dan argumentasi akademis, Gerakan Moral: Menjadi suara hati nurani, mengingatkan penguasa agar tidak menyalahgunakan kekuasaan & Gerakan Jalanan: Turun ke jalan sebagai pilihan terakhir ketika kanal formal ditutup.
Maklumat yang sudah kami serahkan adalah wujud gerakan intelektual dan moral. Aksi massa adalah kelanjutan logisnya, sebagai tekanan politik sah dari rakyat.
Kami sadar, perjuangan ini panjang. Tetapi sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani. SEMMI Se-Sulawesi Selatan memilih untuk berdiri di barisan rakyat
Maklumat yang kami serahkan adalah dokumen sejarah. Aksi yang akan kami lakukan pun adalah catatan perlawanan. Dan sikap yang kami ambil adalah warisan untuk generasi mendatang & Apabila pemerintah benar-benar mendengarkan, maka jalan dialog terbuka. Tetapi bila terus menutup telinga, maka jangan salahkan jika gelombang perlawanan rakyat akan semakin besar dan tak terbendung. Pungkas Wawan copel (Bendum PW SEMMI SULSEL)






