MAKASSAR, SULSEL — Rabu malam di Jalan Butung Lr. 200, kelurahan butung kecamatan Wajo, diselimuti aura duka namun juga ketenangan yang mendalam. Masyarakat berkumpul, bukan sekadar untuk mengucapkan belasungkawa, melainkan untuk meneguhkan ikatan persaudaraan dan memikirkan hakikat kehidupan di acara takziah Almarhum Mustafa, ayah mertua dari Jurnalis Online Lontara Celebes, Bang Ichal. (10/09/2025).
Kehadiran Sekertaris Lurah (Seklur) Butung, Bapak Slamet S.Sos, mewakili Pemerintah Kelurahan Butung, menjadi simbol kepedulian dan dukungan tak hanya bagi keluarga yang berduka, namun juga bagi seluruh warga yang merasakan kehilangan. Dalam Berbagainya yang penuh empati.
“Slamet selaku seklur Butung, mengucapkan belasungkawa seraya mengumpulkankan doa. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosanya. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan dan keikhlasan dalam menerima musikbah dan ujian ini dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Aalamin, katanya, mengandung harapan dan kekuatan,” ungkap Slamet S.sos.
Lebih dari sekedar formalitas, takziah adalah jembatan solidaritas kemanusiaan. Tujuannya, sebagaimana ditegaskan oleh Seklur Slamet, adalah untuk memberikan dukungan moral kepada mereka yang ditinggalkan agar lebih bersabar. Namun dibalik itu, takziah juga berfungsi sebagai pengingat universal bagi setiap jiwa yang bernyawa: bahwa semua yang hidup pasti akan merasakan kematian. “Semoga doa yang telah kita panjatkan ke almarhumah, dapat langsung di ijabah kan Allah,” harap Slamet, mengajak hadirin untuk terus mengalirkan doa.
Inti dari malam yang sarat makna ini adalah ceramah agama yang disampaikan oleh Penceramah Milenial Ustadz Syamsir Labbang. Dengan judul yang menggugah, “Hikmah Tazkiratul Maut: Perjalanan Kehidupan Dunia Menuju Alam Barzah (Alam Kubur)”, Ustadz Syamsir mengajak audiens untuk membayangkan eksistensi fana dan kekekalan akhirat. Dalam gaya pengungkapannya yang relevan dengan generasi kini, ia mengupas tuntas tentang perjalanan spiritual yang tak terhindarkan bagi setiap insan.
“Dunia ini hanyalah persinggahan,” Ustadz Syamsir memulai, “sebuah ladang yang kita olah dengan amal kebaikan atau keburukan. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju fase kehidupan yang sesungguhnya di Alam Barzah, alam penantian sebelum hari kebangkitan.” Ia menekankan pentingnya Tazkiratul Maut , mengingat mati, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memotivasi agar selalu berbenah diri, memperbanyak bekal, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pertemuan dengan Sang Pencipta. Hikmahnya adalah kesadaran bahwa setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap detik yang berlalu di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
Acara yang dipandu apik oleh Protokoler M Ridwan Abdullah ini semakin khusyuk dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang syahdu dari Qori Nasional Ustadz Firman Razak S.Hi. Suara merdu sang qori seolah membelah kesunyian malam, menaungi hati para hadirin dengan kedamaian dan harapan, menegaskan kebesaran dan janji Allah SWT.
Ketika tabir malam kian pekat dan acara takziah usai, yang tertinggal bukanlah sekadar kenangan akan seorang yang telah tiada, melainkan sebuah pengingat abadi bagi setiap jiwa yang bernafas: bahwa setiap perjalanan di dunia ini adalah persiapan menuju perjalanan yang lebih hakiki. Takziah Almarhum Mustafa bukan sekedar momen duka, melainkan sebuah tazkirah (peringatan) yang mendalam, mengajarkan kita untuk menghargai setiap nafas, mengisi hidup dengan kebaikan, dan selalu bersiap menghadapi perjalanan mutlak dari dunia menuju Alam Barzakh, semoga Almarhum Mustafa diterima di sisi-Nya, dan semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari setiap takdir, mempersiapkan bekal terbaik untuk hari kepulangan.






