TAKALAR, SULSEL — Pihak SMP Negeri 2 Takalar meluruskan informasi yang berkembang terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMPN 2 Takalar, Rusdianto, menegaskan pihak sekolah tidak pernah menyatakan adanya siswa yang mengalami keracunan.
Menurutnya, keluhan yang diterima pihak sekolah berupa sakit perut yang dialami sejumlah siswa, setelah mengonsumsi makanan MBG.
“Tidak ada bahasa keracunan, Pak, karena memang tidak ada dari kami,” tegas Rusdianto saat memberikan klarifikasi di ruang kerjanya, Selasa (1/9/2026).
Rusdianto mengatakan istilah keracunan tidak dapat langsung digunakan. Tanpa adanya pemeriksaan yang memastikan penyebabnya.
Ia menyebut tidak ditemukan kondisi berat seperti siswa pusing, pingsan. Maupun gejala lain yang mengarah pada kondisi serius.
“Kalau saya, begitu dikonsumsi mungkin orang atau anak-anak pusing. Pingsan, begitu kan? Jadi tidak ada yang kejadian begitu kemarin,” jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah tidak mengabaikan keluhan tersebut.
Rusdianto mengungkapkan, awalnya sekitar 20 siswa dilaporkan meminta izin pulang karena mengeluhkan sakit perut.
Namun setelah dilakukan pendataan, jumlah siswa yang mengalami keluhan disebut mencapai sekitar 28 hingga 29 orang.
“Data tadi bukan 20, sudah 28 atau 29 orang,” ungkapnya.
Dengan jumlah siswa sekitar 1.040 orang, Rusdianto menilai setiap keluhan tetap harus diperhatikan, terlebih makanan MBG dikonsumsi oleh banyak siswa setiap hari.
Sekolah Laporkan ke SPPG
Pihak sekolah kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Rusdianto, pengelola SPPG datang langsung ke sekolah untuk menerima informasi mengenai keluhan yang dialami siswa.
“Kami melaporkannya ke SPPG. Jadi tim SPPG datang, pengelolanya datang. Saya menyampaikan kejadiannya begitu,” katanya.
Dalam pertemuan itu, pihak sekolah meminta adanya evaluasi terhadap proses pengelolaan makanan MBG.
Evaluasi tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh prosedur. Termasuk pengawasan kualitas makanan, sebelum didistribusikan kepada siswa, benar-benar berjalan.
“Saya bilang jangan sampai ada yang terlewati. Meskipun itu kan wilayahnya mereka,” ujar Rusdianto.
Pihak SPPG, kata dia, juga memastikan makanan tidak akan didistribusikan sebelum melewati proses pengecekan.
“Dibilang, ‘Iya, Pak, tidak bisa keluar Pak ini makanan kalau dia tidak melalui pengecekan,’” tuturnya.
Pembelajaran Tetap Berjalan Normal
Di tengah munculnya keluhan tersebut, Rusdianto memastikan kegiatan belajar mengajar di SMPN 2 Takalar tetap berjalan normal.
Distribusi makanan MBG juga kembali berlangsung pada hari berikutnya.
“Yang sekarang alhamdulillah aman ji. Aman berjalan tadi,” katanya.
Rusdianto menegaskan, pihak sekolah tidak ingin menyimpulkan keluhan sakit perut tersebut sebagai keracunan sebelum ada pemeriksaan yang dapat memastikan penyebabnya.
Namun, ia tetap mendorong evaluasi sebagai langkah antisipasi untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa.
“Jadi, artinya ini tetap harus dievaluasi kalau saya, Pak. Harus dievaluasi,” tegasnya.
Orang Tua Siswa: Tidak Ada Keracunan
Keterangan serupa disampaikan salah seorang perwakilan orang tua siswa, Daeng Tannga.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diketahuinya, tidak ada siswa yang disebut mengalami keracunan.
Keluhan yang muncul, kata dia, berupa sakit perut.
“Tidak ada yang namanya keracunan. Cuma sakit perut saja,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, turut dibahas kemungkinan adanya faktor lain. Yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan siswa, termasuk makanan atau jajanan yang dikonsumsi, di luar lingkungan sekolah.
Hingga saat ini, pihak sekolah menekankan bahwa keluhan sakit perut tersebut. Perlu dievaluasi lebih lanjut dan tidak serta-merta disimpulkan. Sebagai keracunan sebelum terdapat pemeriksaan yang memastikan penyebabnya.






