Gowa, SulSel — Setelah sebelumnya menyorot dugaan pembesian tak sesuai RAB, LSM PERAK kembali menemukan kejanggalan baru di proyek Revitalisasi SDN 170 Je’nemaeja.
Kali ini, temuan mengarah pada penggunaan besi begel ukuran 4 yang dinilai sangat rawan dan membahayakan keselamatan ratusan siswa.
Hasil monitoring lanjutan tim Divisi Investigasi LSM PERAK menemukan bahwa hampir seluruh begel pada struktur kolom gantung menggunakan besi berdiameter kecil. Padahal secara teknis, bangunan sekolah wajib memenuhi standar keamanan.
“Ini bukan lagi kelalaian, tapi dugaan kesengajaan. Besi 4 untuk behel itu tidak akan mampu menahan beban gempa. Kalau roboh siapa yang tanggung jawab? Anak-anak kita yang jadi korban,” tegas Rahman Samad, Divisi Investigasi LSM PERAK.
Proyek Revitalisasi SDN 170 Je’nemaeja diketahui bersumber dari APBN Tahun 2026 dengan nilai kontrak Rp 1.013.994.732 Dengan anggaran sebesar itu, LSM PERAK menilai kualitas pekerjaan sangat tidak wajar.
“Kalau begini caranya, lebih baik uang negara dikembalikan saja. Jangan bangun kalau mau asal-asalan. Kami mendesak Inspektorat, Dinas Pendidikan, PPK, Konsultan Pengawas, dan APH untuk segera turun, bongkar dan audit fisiknya,” desak Rahman.
Hingga berita ini diturunkan, pihak P2SP pelaksana proyek dan konsultan pengawas belum memberikan klarifikasi. Kepala Sekolah SDN 170 Je’nemaeja saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp enggan merespon
Sementara itu, warga dan orang tua siswa mengaku khawatir. “Kami titip anak di sini tiap hari. Kalau bangunannya tidak kuat bagaimana? Tolong segera diperiksa sebelum terlambat,” ujar salah satu warga yang identitasnya dirahasiakan
LSM PERAK juga meminta Kejaksaan dan Polres untuk tidak menunggu adanya korban baru melakukan tindakan. “Jangan sampai setelah ada korban baru sibuk. Audit sekarang, sebelum gedung ini difungsikan,” pungkasnya.






