Gowa, SulSel — Di bawah langit biru Kabupaten Gowa yang ditemani semilir angin Samata, dua puluh mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar memulai perjalanan akademik yang penuh makna.
Tahun 2025 menjadi saksi betapa ilmu yang mereka pelajari di ruang kelas mulai menyatu dengan kenyataan nyata ketika mereka mengunjungi LKSA Nur Faisal, sebuah panti asuhan yang telah menjadi rumah kedua bagi 25 anak yatim, piatu, dan dari keluarga kurang mampu sejak tahun 2007.
Kegiatan observasi dan wawancara yang dilakukan siswa tidak sekedar menjadi kewajiban akademik. Di sanalah mereka mengupas tuntas bagaimana peran pekerja sosial, mereka yang dikenal sebagai “lentera pengharum kehidupan anak rawan sosial”. Seorang siswa bertanya kepada Santi, pekerja sosial yang telah dua tahun mengabdikan diri di panti: “Bagaimana Anda menyelaraskan antara tugas pendidikan dan kebutuhan emosional anak-anak ini?” Santi menjawab dengan mengulangi sabda Nabi: “Setiap umat-Nya adalah mualaf, maka berlakulah baik bagi mereka.”
Di sela-sela kegiatannya, mahasiswa menyaksikan ritual harian yang menegaskan misi LKSA: doa bersama di masjid panti, les privat untuk menggenjot nilai rapor, dan aktivitas seni yang dirancang untuk mengakrabkan konsep ukhuwah wa shafahah. Bahkan keterbatasan dana dari sumbangan masyarakat dan donatur tidak menghalangi terciptanya suasana yang hangat. “Kita tidak membangun istana mewah, tapi kami membangun rumah yang penuh kasih,” kata Ketua Yayasan LKSA Nur Faisal, Telly Dg. Bajeng.
Keterbatasan dan Kesetaraan: Tantangan di Balik Relawan
Namun, kisah dibalik kegigihan ini tidak tanpa goresan, dengan empat pekerja sosial yang harus mendampingi 25 anak, tantangan pun terasa nyata. “Seringkali, kami harus memilih antara memenuhi kebutuhan fisik atau merawat trauma emosional anak,” cerita Andi, seorang pekerja sosial yang sudah 10 tahun mendampingi anak binaan. Mahasiswa mencatat hal ini sebagai guru sejati : bahwa kesejahteraan sosial bukan sekedar angka dan program, tapi tentang kesiapan hati untuk merasakan beban sesama.
Observasi juga mengungkap adanya disonansi antara kebutuhan komunitas dan akses sumber daya. Ketergantungan pada donasi membuat program khusus—seperti terapi psikologis atau kegiatan ekstrakurikuler—sering kali terbatas. “Kita memerlukan lebih banyak kolaborasi dengan pemerintah atau komunitas lokal,” kata Telly. Mahasiswa pun menyarankan pembentukan komunitas pendamping , yang memadukan peran alumni kampus, LSM, dan dinas sosial untuk memperkuat fondasi dan sumber daya.
Selesai mengukir catatan lapangan, mahasiswa kembali ke kampus dengan jiwa yang mungkin lebih tahu arti keberpihakan.
Dalam kelompok diskusi, mereka bertanya: “Bagaimana agar kita tidak hanya melihat anak panti sebagai korban, tetapi sebagai potensi yang layak berdaulat?” Beberapa ide cemerlang lahir, seperti pelatihan kewirausahaan bagi anak remaja di panti atau gambaran psikososial yang kritis dan pribadi.
Kunjungan ini menjadi bukti hidup bahwa pendidikan sosial tidak cukup diam dalam teori. Mahasiswa tidak hanya menjadi pemelihara kebenaran, tapi juga penulis ide-ide baru yang mungkin menggerakkan dunia.
Keterlibatannya dengan LKSA Nur Faisal bukan akhir kisah, tapi peluit keras bagi kampus dan masyarakat: bahwa kesejahteraan sosial adalah tanggung jawab bersama, yang disuarakan melalui keterbukaan, kerja kolaboratif, dan hati yang tidak pernah padam.
Di pelataran panti yang bersemangat, seorang anak menyanyikan lagu pendek saat taman bermain diisi tawa: “Nur Faisal, rumah abadi. Di mana kasih tidak pernah pudar.” Di sanalah, mahasiswa UIN Alauddin Makassar menemukan makna terdalam dari ilmu mereka, bahwa kebaikan tidak bisa dimonetisasi, tapi bisa dikejar setiap langkah.