Takalar SulSel — Simpul Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda (SPMP) secara resmi menyoroti transparansi anggaran pengadaan aplikasi absensi Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama “Anita” di lingkungan Pemerintah Kabupaten Takalar.
Rais selalu Ketua SPMP, mempertanyakan besarnya anggaran aplikasi tersebut, yang dikabarkan mencapai miliaran rupiah. Namun dinilai tertutup dari pengawasan publik maupun legislatif.
Menurut Rais, penggunaan anggaran fantastis untuk sistem absensi digital itu menimbulkan tanda tanya besar terkait urgensi, asas manfaat, hingga mekanisme penganggarannya.
“Kalau memang anggarannya mencapai miliaran rupiah, publik berhak tahu. Ini uang rakyat, bukan uang pribadi. Semua harus transparan dan bisa di pertanggung jawabkan,” tegas Rais, Minggu (25/05/2026).
Kecurigaan SPMP semakin menguat setelah sejumlah anggota. DPRD Kabupaten Takalar mengaku tidak pernah membahas, maupun dilibatkan dalam pengadaan, aplikasi tersebut pada forum resmi kedewanan.
Menurut Rais, apabila pengadaan itu menggunakan skema anggaran parsial, ataupun melalui pembahasan APBD, maka Badan Anggaran (Banggar) DPRD. Seharusnya mengetahui detail alokasi dan proses pengesahannya.
“Ini yang menjadi pertanyaan besar. Bagaimana mungkin anggaran miliaran bisa berjalan, tanpa diketahui anggota dewan, khususnya Banggar. Jangan sampai ada mekanisme yang dilangkahi,” ujarnya.
SPMP menilai polemik aplikasi “Anita” menjadi preseden buruk bagi tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan di Kabupaten Takalar.
Selain mempertanyakan sumber anggaran, aktivis mahasiswa dan pemuda itu juga meminta Pemerintah Kabupaten Takalar segera membuka seluruh dokumen pengadaan, mulai dari proses perencanaan, pihak penyedia, hingga rincian penggunaan anggaran aplikasi tersebut.
Rais menegaskan, pihaknya akan terus mengawal persoalan ini hingga tuntas. Bahkan SPMP tidak menutup kemungkinan menempuh jalur hukum maupun menggelar aksi demonstrasi besar-besaran apabila pemerintah daerah tidak segera memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.
“Jangan sampai aplikasi ini justru menjadi ajang bisnis terselubung yang mengorbankan uang rakyat. Kami akan terus kawal sampai semuanya terang-benderang,” pungkasnya.






