Mobil Dinas Bea Cukai Dipakai Berselingkuh oleh Oknum Sopir 

MAKASSAR, SULSEL Mobil dinas hitam mengkilap itu meluncur mulus dari pekarangan rumahnya di Makassar, membelah jalanan yang mulai ramai, seorang pegawai Bea Cukai, di balik kemudi dengan seragam rapi, tampak seperti pilar integritas. Namun, di balik seragam dan kendaraan negara yang gagah itu, tersimpan sebuah rahasia busuk yang menggerogoti hati Fitriani, sang istri sah, hingga ke tulang.

Fitriani, dengan mata sembab dan tubuh yang terasa lelah, sudah lama merasakan dinginnya. Nafkah yang tersendat, alasan lembur yang tak masuk akal, dan memunculkan dingin yang menggantikan kehangatan dulu, semuanya seperti puzzle yang perlahan membentuk gambar mengerikan. Hingga suatu siang yang terik, cuaca buruk itu berubah menjadi badai realita yang menghantamnya telak.

Bacaan Lainnya
Tampan oknum sopir Bea Cukai yang merasa hebat dan tak bersalah saat diketahui dirinya selingkuh

Mengikuti jejak kereta yang ia rasakan, Fitriani menemukan dirinya berdiri di depan sebuah salon kecantikan bernama Nadia Purnama di Jalan Andi Mappaoddang, Kecamatan Tamalate. Jantungnya berdebar tak karuan, bercampur antara harapan salah dan ketakutan akan kebenaran. Dan di sanalah ia melihatnya: mobil dinas milik negara, yang seharusnya mengemban amanah rakyat, terparkir rapi. Bukan untuk urusan dinas, melainkan sebagai saksi bisu yang dikhianati.

Dengan langkah gontai namun tekad membara, Fitriani masuk. Aroma kimia kucing rambut dan parfum mewah langsung menyeruak, namun tak mampu mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang meremukkan. Di salah satu sudut salon, suaminya, FH, sedang bercanda ria dengan seorang wanita muda, Yulinar, karyawan salon tersebut. Senyum yang selama ini tak pernah ia lihat lagi di rumah, kini terpampang jelas di wajah FH, ditujukan pada wanita lain.

Dunia Fitriani runtuh, kemarahan, kesedihan, dan rasa dipermalukan meledak dalam satu raapan. “FH!” suara bergetar, memecah keheningan salon, semua mata tertuju pada mereka. FH terkesiap, wajahnya memucat, mencoba menyembunyikan Yulinar di belakangnya. Namun, semuanya sudah terlambat.

“Aku sudah tahu semuanya!” teriak Fitriani, air mata mengalir deras membasahi pipinya. “Kau menggunakan mobil dinas milik negara untuk berselingkuh! Untuk bertemu dengan wanita ini, sementara aku dan anak-anakmu kau telantarkan! Kau sengsarakan kami, tak pernah menafkahi tiap bulan!,” ucapnya dengan kesal

Fitriani tak dapat lagi menahan emosinya, semua beban penderitaan yang ia tanggung selama ini tumpah ruah. “Dia Yulinar, kan? Wanita yang sudah kau belikan motor dan iPhone itu? Sementara anakmu sendiri kekurangan, susu dan kebutuhan sekolahnya tak pernah kau pikirkan!”

Suaranya meninggi, menarik perhatian tidak hanya pelanggan salon, tetapi juga warga sekitar yang mulai berkumpul. Rasa malu tak lagi ia rasakan, karena harga dirinya sudah terkoyak habis, yang tersisa hanyalah kemarahan dan tuntutan akan keadilan.

“Seharusnya Kepala Bea Cukai memecat suamiku!” seru Fitriani dengan lantang, matanya menatap tajam ke arah FH yang kini menunduk, tak berani menatapnya. “Dia bukan hanya hidup secara keluarganya, tapi juga hidup di negara-negara dengan menyalahgunakan fasilitas dan jabatannya untuk hal keji seperti ini! Dia tidak pantas memakai seragam itu, tidak pantas memegang jabatan itu!”

Teriakan Fitriani menggema di tengah keramaian, membawa serta kisah pahit seorang istri yang dikhianati dan sebuah amanah negara yang diiciderai. Di balik mobil dinas yang mengkilap, terkuak cerita tentang moralitas yang runtuh, pengkhianatan, dan tuntutan keras akan pertanggungjawaban. Insiden di Salon Nadia Purnama bukan hanya drama rumah tangga biasa; ini adalah pemikiran keras bagi integritas dan etika seorang abdi negara.

Saat humas Bea Cukai dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp nya mengatakan, FH memang betul dia supir kantor, selingkuh seperti apa? Tetapi saya info ke atasannya bang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *