Enarotali Papua Tengah — Cahaya pagi mulai menyinari di atas Danau Paniai, menyapu kabut tipis yang membuat lembah Enarotali, suasana sunyi pagi ini segera pecah oleh gemuruh semangat yang berbeda.
Bukan dari suara kendaraan atau pasar, melainkan dari riuh rendah tawa dan sapaan hangat yang menggema di sepanjang jalan utama Kecamatan Paniai Timur. Jum’at (13 Februari 2026).
Hari ini bukan hari biasa, warga dari berbagai pelosot berkumpul, bukan untuk upacara adat atau pertemuan resmi, melainkan dengan membawa sapu, cangkul, karung, dan senyum lebar. Mereka datang untuk kerja bakti, sebuah tradisi gotong royong yang kali ini memiliki warna istimewa. Berdiri berdampingan dengan mereka, terlihat seragam hijau TNI dari Koramil 1705-02 dan Batalyon Infanteri 4 Marinir Jakarta yang gagah, serta seragam cokelat Satpol PP yang tak kalah semangat. Sebuah kolaborasi yang jarang terlihat, namun pagi itu terasa sangat natural.
Acara dimulai tanpa protokol kaku, seorang Bapak TNI dengan logat khasnya membuka dengan canda, “Ayo kita buat Papua lebih bersih dari kamar anak kos!” disambut gelak tawa rekan-rekan Satpol PP dan warga. Esaknya langsung mencair. Tidak ada sekat pangkat atau institusi; yang ada hanya kawan seperjuangan membersihkan kampung halaman.
Mereka membagi wilayah. Ada yang membersihkan selokan yang tersumbat, ada yang memunguti sampah plastik di tepi danau, ada yang merapikan taman dan pinggir jalan. Yang membuat pekerjaan fisik itu terasa “sangat ringan”, seperti yang diungkapkan warga, seorang ibu rumah tangga, adalah kebersamaan itu sendiri. “Kalau sendiri, angkat sedikit sampah saja berat. Tapi lihat sekarang, batu besar pun bisa kami geser karena kompak. Apalagi Bapak-Bapak TNI dan Satpol PP ini, sambil kerja ajak kami bercanda terus. Rasanya seperti keluarga besar sedang membereskan rumah,” sambil tersenyum, menyeka keringat di pelipis.
Suasana penuh keakraban itu benar-benar hidup, seorang prajurit Marinir dengan cekatan membantu anak-anak muda mendorong gerobak sampah yang penuh, sambil berbagi cerita pengalamannya di Jakarta. Di sudut lain, personel Satpol PP dengan sabar mengajari remaja setempat cara mengikat sampah daun yang efisien, diselingi gurauan tentang tim sepak bola favorit. Tawa mereka, tulus dan berderai, menjadi pengiring musik kerja bakti yang paling merdu.
Salahsatu pemuda mengamati situasi itu dengan mata berkaca-kaca. “Inilah yang kami rindukan. Bukan sekedar bantuan fisik, tapi kehadiran yang hangat, yang mau turun langsung, berkeringat bersama, dan tertawa bersama. Mereka tidak datang sebagai ‘penguasa’ atau ‘pembina’, tapi sebagai teman kerja dan saudara. Itu yang membuat hati kami ringan dan semangat kami membara.”
Sinar matahari semakin tinggi, menandai kerja bakti yang hampir usai. Sampah-sampah yang menggunung telah terangkut dengan rapi. Selokan mengalir lancar. Lingkungan pun berbinar lebih bersih. Namun, warisan terbesar yang ditinggalkan hari itu bukan hanya kebersihan fisik.
Sebelum berpisah, mereka berkumpul sejenak. Seorang prajurit TNI memegang bahu pemuda Enarotali, “Jaga terus ya kebersihan dan kekompakan ini. Kami pasti main lagi kesini!” Janji yang diucapkannya bukan sebagai tugas dinas, melainkan sebagai ajakan antar kawan.
Warga pun berpamitan dengan perasaan hangat, hari ini di tepian Danau Paniai yang indah, mereka tidak hanya membersihkan lingkungan. Mereka telah membersihkan sekat-sekat yang mungkin ada, merenggangkan benang-benang persaudaraan yang lebih kuat antara warga, TNI, dan Satpol PP.
Warga membuktikan sebuah mantra sederhana namun penuh kekuatan: pekerjaan yang berat akan terasa ringan bila dilakukan dengan kompak, dan kehadiran yang penuh canda serta senyum adalah pupuk terbaik untuk menumbuhkan rasa memiliki dan kebersamaan yang sesungguhnya.
Enarotali hari ini bersih, dan yang lebih bersih lagi adalah hati warganya, yang telah dicerahkan oleh senyum, canda, dan keringat bersama para sahabat baru mereka yang berseragam.