Jeneponto, Sulawesi Selatan — Desa Pao, sebuah nama yang mungkin tak asing bagi sebagian besar, kini menjadi pusat perhatian, kepemimpinan kepala Desa saat ini, Sudirman Tatu S.Pd, yang telah mengabdi lebih dari 6 tahun, mulai dipertanyakan oleh warganya sendiri.
Bukan sebab tanpa, masyarakat desa pao mulai menonjolkan kinerja beliau, terkait pembangunan infrastruktur, dan penyediaan sarana prasarana yang dianggap belum memuaskan.
Infrastruktur yang berbengkalai: anggaran ada, hasil dimana?
Dalam kurun waktu yang cukup lama ini, desa pao masih berkutat dengan berbagai permasalahan mendasar, sangat jelas jalan desa yang rusak parah, minimnya akses ke layanan kesehatan yang memadai, hanyalah sebagian kecil dari daftar panjang keluhan masyarakat. Ironisnya, meski anggaran pembangunan desa terus digelontorkan, dampaknya belum terasa signifikan di lapangan.
Kekecewaan ini bukan tanpa alasan, salah seorang warga Desa Pao, insial D, mengungkapkan suara hati masyarakat yang resah. “Sebagai pemimpin di desa Pao harusnya sudah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, sampai saat ini kita melihat tidak ada yang dibangunkan oleh pemerintah Desa Pao, jalan rusak saja tidak ada solusi yang munculkan,” ujarnya penuh harap.
Pernyataan ini menggambarkan, betapa mendesaknya kebutuhan akan perubahan nyata di desa mereka.
Transparansi musrenbang dan Profesionalisme kepemimpinan yang dipertanyakan.
Tak hanya masalah infrastruktur fisik, isu transparansi dan partisipasi masyarakat juga menyita perhatian. Putra, seorang mahasiswa sekaligus pemuda Desa Pao, menyerukan agar Kepala Desa bersikap lebih profesional dalam memimpin, ia menyoroti pelaksanaan musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang seharusnya menjadi forum penting, untuk menyerap aspirasi dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Putra, kehadiran masyarakat dalam musrenbang sangat minim, seolah-olah hanya dihadiri oleh “kubu” tertentu saja. Bahkan, ia sempat mendengar dari Tokoh Masyarakat sebuah pernyataan yang ditolak: “Jangan mi di undang itu karna banyak sekali pertanyaannya.” Pernyataan ini, menurut Putra, mengindikasikan adanya upaya partisipasi yang patut ditanyakan. Jika sebuah forum perencanaan pembangunan justru membatasi suara kritis, lalu bagaimana keputusan yang diambil bisa benar-benar mewakili kebutuhan seluruh warga?
Harapan warga untuk sisa masa jabatan.
Dengan jejak-jejak yang “nyaris nihil”, dalam pembangunan selama hampir dua periode ini, harapan masyarakat Desa Pao kini tertumpu pada sisa masa jabatan Kepala Desa, mereka mendesak agar prioritas dialihkan sepenuhnya, pada pembangunan desa yang konkret dan transparan.
Warga berharap, di sisa masa kepemimpinannya, Bapak Sudirman Tatu S.Pd, dapat lebih fokus pada tindakan nyata, bukan sekadar janji-janji, demi kemajuan Desa Pao yang mereka cintai.
Kisah desa pao cermin kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang hasil nyata dan kepercayaan masyarakat, sudah saatnya kepala Desa Pao menjawab keraguan warganya dengan tindakan nyata, memastikan bahwa setiap anggaran yang dialokasikan benar-benar membawa perubahan positif, kemajuan desa adalah cerminan dari komitmen pemimpin dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.






