Oknum Guru di Pulau Barrang Lompo, Melontarkan Bahasa Kasar Ke Anggota Ormas Pandawa Patingngalloang

Makassar SulSel Sebuah peristiwa yang mengguncang ketenangan warga pulau barrang lompo kecamatan sangkarrang kota makassar, bukan oleh gempa atau badai, melainkan oleh kata-kata yang diedit dari mulut seorang oknum guru SD berinisial (Hj SYR), sosok yang seharusnya menjadi panutan, sumber nasihat, dan penjaga adab

Hj SRY, seorang oknum guru sekolah dasar, secara mengejutkan melontarkan tuduhan tajam terhadap Hendra Dg. Lotteng, anggota Ormas Pandawa Patingngalloang, yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Bacaan Lainnya

Tuduhannya keras: penipuan dana dan penggunaan kata-kata kejam yang menyakitkan, terutama dalam bahasa Makassar — ​​bahasa yang sejatinya sarat dengan nilai hormat, siri’ (harga diri), dan pessu’ (tanggung jawab).

Menurut penuturan Hendra, semuanya bermula dari sebuah pertemuan tak terduga di dermaga. Saat membawa kapalnya, ia bertemu dengan suami dari Hj. SRY. Dalam logat khas Makassar, suami tersebut membuka pembicaraan, menawarkan bantuan. “Ada kebutuhan yang bisa saya bantu, jadi kamu juga bisa membantu saya,” katanya. Hendra, yang hidup dari hasil pelayaran dan penangkapan teripan, menjawab dengan santun, “Kalau urusan uang jalan, saya tidak pernah kekurangan semua sudah cukuplah.

Namun, benih yang memperburuk rupanya telah tumbuh. Tak lama kemudian, tanpa proses klarifikasi, Hj. SRY — yang bahkan tidak terlibat langsung dalam percakapan tersebut — menyampaikan dengan tuduhan publik, didepan orang-orang, dalam bahasa yang menusuk relung hati, ia melontarkan kata-kata: “ Kamu tu penipu, pasundala satu keluarga,” ungkap Hendra saat meniru ucapan SYR

“Saya tidak marah karena kata-katanya,” ujar Hendra, suaranya bergetar namun tegas. “Saya sedih karena seorang guru, yang mengajar anak-anak kita menghormati sesamanya, malah menginjak harga diri seorang bapak di depan umum. Dan menyebut anak saya dengan kata yang tak layak diucapkan oleh siapa pun.” jelas Hendra dengan nada gemetar

Pulau Barrang Lompo, yang selama ini dikenal sebagai kampung nelayan yang harmonis, kini terbelah oleh guncangan moral ini. Warga mulai bertanya: jika seorang guru, yang seharusnya menjadi contoh addatto (kedisiplinan) dan annang (kasih sayang), bisa berlaku demikian, lalu ke mana kita harus mencari rujukan etika?

Ormas Pandawa Patingngalloang, yang selama ini membantu masyarakat di bidang keamanan, gotong royong, dan bantuan bencana, merasa terdzolimi. Mereka menyampaikan agar kasus ini diselesaikan secara adil, bukan dengan emosi, namun dengan prosedur yang transparan. “Kami terbuka untuk klarifikasi. Tapi tuduhan tanpa bukti, apalagi yang menyakiti keluarga orang, itu bukan pendidikan. Itu kekerasan,” tegas salah seorang pemuda yang tak mau disebut namanya

lanjut, Di tengah gelombang informasi dan kecepatan komunikasi, kita sering lupa bahwa sebuah kata bisa menjadi obat atau racun. Dan bagi masyarakat pesisir seperti Barrang Lompo, yang menjunjung tinggi siri’, mapaccing, dan setia , penghinaan terhadap keluarga bukan sekadar masalah pribadi. Ia adalah luka kolektif,” kata pemuda dengan tegas

Hari ini, angin di Barrang Lompo masih terdengar lembut. Tapi di hati banyak orang, perdebatan bergulir:

Apakah guru yang mengajarkan kebenaran justru menjadi sumber kegaduhan? Dan siapa yang akan mendidik anak-anaknya, jika panutan mereka sendiri kehilangan arah?

Semoga dari pulau kecil ini, lahir juga gelombang keadilan yang tidak hanya membawa pasir ke pantai, tapi juga membawa kembali rasa hormat dan adat di tengah-tengah masyarakat. Karena di Makassar, kata itu muatannya , dan muru’ itu mahal harganya.

Hingga berita ini terbit belum ada hasil konfirmasi dari pihak oknum guru berinisial (Hj SYR).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *