Makassar SulSel — Pagi belum sepenuhnya bangun ketika udara laut Paotere mulai beraroma garam, ikan segar, dan riuh rendah suara lelang.
Saat sebagian besar warga Kota Makassar, masih terlelap atau bersiap memulai hari, Ashar Basri, 56 tahun, sudah berdiri kokoh di antara tumpukan keranjang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere.
Dengan kaos lengan pendek yang mungkin sudah menyerap seribu cerita laut, dia menyambut fajar yang perlahan mengusir kabut pagi. Pukul 06.00 Wita, ritme hidupnya telah berdetak kencang—sebuah ritme yang tidak berubah selama 35 tahun terakhir sebagai pedagang ikan.
Ashar bukan sekadar pedagang, sorot matanya yang tajam mengawasi kualitas ikan, tersimpan peta rinci sebuah komunitas: RT 004, RW 004, Kelurahan Camba Berua. Sejak 1980, dia telah menancapkan akar kehidupan di sana, menyatu dengan tanah, dengan laut, dan dengan setiap wajah warga yang kini tak asing lagi. “Saya sudah lama di sini, jadi hampir semua warga saling kenal,” ucapnya dengan suara serak khas orang yang akrab dengan angin laut.
Kedekatan itu bukan sekadar kenangan; ia adalah modal berharga yang mengalir dalam darah kepemimpinannya, di usia sekitar 35 tahun, ketika banyak orang mungkin masih mencari bentuk, Ashar telah memikul amanah sebagai Ketua RT—sebuah posisi yang dipegangnya dengan teguh selama 28 tahun. “Dari masih tidak ada gaji,” katanya, tersenyum tipis, seolah menggambarkan perjalanan panjang yang dilalui bukan dengan imbalan materi, tapi dengan kesetiaan.
Setelah lelang pagi berakhir dan keramaian di Paotere mulai mereda, peran Ashar bergeser dari pedagang menjadi pemimpin. Tiga pilar utama menjadi poros kerjanya: kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan. Bagi Ashar, kebersihan bukan sekadar kerja bakti mingguan, melainkan upaya membangun kesadaran bahwa setiap jengkal tanah adalah cermin kepedulian bersama. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” pesannya kerap bergema di pertemuan warga.
Keamanan di wilayahnya terjaga berkat semangat gotong royong yang masih hidup. Patroli malam menjadi ritual rutin, sementara posko keamanan di setiap RW berfungsi sebagai mata dan telinga yang selalu waspada.
Ashar percaya, responsivitas adalah kunci. “Kalau ada warga mengadu, kita harus sigap dan cepat menindaklanjuti,” tegasnya. Tak jarang, setelah seharian berurusan dengan ikan, dia masih menyempatkan diri mendengar keluhan warga atau memediasi persoalan kecil yang bisa membesar jika diabaikan.
Remaja juga menjadi perhatiannya, di sela-sela transaksi jual beli, Ashar menyisipkan nasihat halus: jaga etika, hormati tetangga, jangan sampai kumpul-kumpul malah menimbulkan keresahan. Baginya, mendidik generasi muda adalah investasi untuk menjaga harmoni lingkungan di masa depan.
Hari terus bergulir. Matahari meninggi, mengeringkan keringat di pelipis Ashar. Di TPI Paotere, ia adalah pedagang yang andal, di camba Beruan kecamatan ujung tanah, ia adalah ketua RT yang dipercaya.
Dua dunia yang berbeda, tapi disatukan oleh satu prinsip: pelayanan tanpa pamrih, ketika senja tiba dan lampu-lampu di posko keamanan mulai menyala, Ashar mungkin sudah pulang, lelah namun puas. Sebab, baginya, memimpin bukan tentang jabatan, tapi tentang hadir—seperti fajar di Paotere—setia menemani setiap langkah warga, dalam sunyi maupun riuh.