Makassar SulSel — Ketika matahari menurunkan tirai emas di atas perempatan lampu merah Jalan Sunu, Galangan Kapal, sebuah pemandangan yang tak biasa mulai mengisi ruang udara: barisan kardus‑kardus berwarna cerah, tenda‑tenda kecil berbentuk bintang, dan senyum‑senyum lelah yang kembali bersemangat.
Forum Makassar Info, komunitas sosial yang telah menjadi ikon kebaikan selama tiga dekade, meluncurkan aksi “Nasi Dos Berbuka” pada hari ke‑16 Ramadhan, Tepatnya Jumat, 6 Maret 2026.
Dari Roda Dua ke Roda Empat, Semua Dapat Menikmati Takjil
Di tengah riuhnya kendaraan yang melaju menantang lampu merah, para relawan Forum Makassar Info Surabaya rapi sambil menyiapkan paket-paket berisi nasi dos, sayur singkong, sambal kacang, serta botol air mineral. Tak hanya pengendara motor yang menjadi sasaran, para sopir truk, taksi, hingga tukang jalan yang sedang menggali aspal ikut disapa.
“Kami menyiapkan paket yang lengkap, jadi kalau ada yang hanya menumpang motor atau truk, tetap dapat nasi, lauk, dan minumannya,” ujar Rini, salah satu koordinator lapangan. “Kalau ada yang belum sempat makan sahur, ini menjadi penyeberangan waktu yang menyelamatkan.”
Setiap paket dibungkus rapi dengan pita berwarna hijau—simbol harapan—dan dilengkapi label “Buka Pagi, Berkah Bersama”. Ketika lampu hijau menyala, para lawan melangkah ke trotoar, mengulurkan paket satu per satu. Sebuah momen sederhana, namun mengubah suhu hati para penerima: dari lelah menjadi hangat, dari kelaparan menjadi terisi.
Ketua Forum, Muh. Ali Buri, Menegaskan Makna “Berbagi”
Di sela-sela distribusi, Muh. Ali Buri, ketua Forum Makassar Info, menyempatkan diri berbicara dengan sejumlah media lokal. Ia menegaskan bahwa aksi ini bukan sekedar tradisi, melainkan perwujudan nilai Islam tentang kebersamaan dan kepedulian.
“Ramadhan adalah bulan menahan diri, namun juga bulan menambah empati. Setiap tahun kami menyiapkan aksi berbagi takjil sebagai wujud nyata kepedulian kami pada sesama, terutama yang masih berada di jalan—bukan hanya soal makanan, tapi tentang memberi mereka kesempatan untuk berbuka tepat waktu, tanpa harus menunggu lama di pinggir jalan,” ucapnya dengan tegas, namun tetap tersenyum.
Buri menambahkan, “Kami mengandalkan donasi secara sukarela, baik dari anggota, bisnis lokal, maupun warga yang ingin berpartisipasi. Setiap rupiah, setiap kardus, semua menjadi benih kebersamaan yang tumbuh di tiap sudut Makassar.”
Reaksi Pengguna Jalan: Antusiasme yang Menular
Tak lama setelah paket pertama diterima, suara tawa dan terima kasih mengalir. Pak Jaya , sopir truk yang tengah menunggu lampu hijau, mengangkat paketnya sambil meneguk air mineral:
“Alhamdulillah, ini sangat membantu. Saya baru pulang dari pelabuhan, masih terasa dahaga. Sekarang saya bisa buka puasa dengan tenang.”
Sementara Mita , seorang mahasiswi yang menunggu bus, mengaku terkejut:
“Kalau tidak ada Forum ini, saya pasti harus menunggu sampai jam 7 malam. Sekarang saya bisa sahur di tempat kerja, buka di sini, dan tetap bisa fokus belajar. Terima kasih!”
Momen-momen kecil ini menumbuhkan rasa solidaritas yang meluas. Seorang fotografer amatir yang hadir menyimpan gambar-gambar itu dalam sebuah galeri yang berani, berharap inspirasi itu dapat menular ke komunitas lain di seluruh Indonesia.
Menatap Masa Depan: Harapan dan Tantangan
Forum Makassar Info tidak berencana berhenti pada satu aksi saja. Dalam rapat internal yang diadakan setelah kegiatan, mereka menetapkan tiga tujuan utama untuk Ramadhan tahun berikutnya:
1. Perluasan Jangkauan – Menambah titik distribusi ke wilayah Tamalanrea dan Panakkukang, menjangkau lebih banyak pekerja lapangan.
2. Diversifikasi Takjil – Menyisipkan pilihan makanan sehat, seperti buah-buahan lokal dan menu rendah gula, demi mendukung kesehatan puasa.
3. Kolaborasi dengan LSM – Menggandeng lembaga sosial lain untuk menyalurkan bantuan kepada keluarga yang lebih membutuhkan, bukan hanya pekerja jalanan.
Namun, tantangan tetap ada. “Kami masih mengandalkan donasi. Keterbatasan dana dan logistik menjadi kendala utama,” ungkap Buri. “Itulah mengapa kami mengajak semua lapisan masyarakat, baik individu maupun perusahaan, untuk bergabung dalam gerakan ini.”
Kesimpulan: Ramadhan yang Lebih Manusiawi di Makassar
Hari ke‑16 Ramadhan tahun ini, persimpangan Sunu tidak lagi sekadar tempat menunggu lampu merah; ia menjadi simbol kebersamaan, tempat di mana rasa lapar dan dahaga diubah menjadi rasa harapan. Forum Makassar Info, melalui aksi “Nasi Dos”, menegaskan bahwa amal tidak harus berskala megah; yang terpenting adalah niat tulus dan keberanian untuk turun ke jalan.
Semoga semangat ini terus merambat, menginspirasi komunitas lain di seluruh nusantara untuk menyalakan cahaya kebaikan di setiap sudut kota, terutama di bulan suci yang penuh berkah. Karena pada akhirnya, berbuka bersama bukan sekadar makan bersama, melainkan merayakan kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu.







