Harmoni di Bawah Langit Surgawi: Polisi dan Ulama Berpeluk dalam Rahmat Isra Mi’raj

Maros SulSel Di pagi hari yang masih dibalut kabut tipis khas dataran tinggi Maros, Pondok Pesantren DDI Hasanuddin Mandai berdenyut dengan nuansa spiritual yang kental.

Para santri berseragam putih-hitam di dekatnya rapi, suara lantunan shalawat mengalun lembut dari pengerasan suara, menyapa langit seolah mengundang rahmat Ilahi turun ke bumi, di tengah hening yang penuh khusyuk, terdengar suara ramah menyapa: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” .

Bacaan Lainnya

Yang datang bukan hanya tamu biasa, ini adalah Kasat Binmas Polres Maros, AKP Ilham Yuliani, S.Trk., SIK, bersama jajaran Binmas yang hadir bukan dengan seragam formalitas, melainkan dengan hati terbuka dan jiwa yang ingin belajar. Kedatangannya dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW — bukan sebagai petugas keamanan, melainkan sebagai saudara, sebagai tamu, dan sebagai penjaga ketenangan yang tunduk pada nilai-nilai agama.

“Kami bukan hanya datang untuk menjaga kedamaian,” kata AKP Ilham dalam Perayaannya, suaranya lantang namun penuh kerendahan hati. “Kami datang untuk belajar, untuk menggenggam tangan para ulama, dan untuk meminta doa agar tugas kami sebagai pelindung masyarakat senantiasa diberkahi.” Ungkap AKP Ilham Yuliani, S.Trk., S.I.K,

Suasana menjadi lebih hangat, pimpinan Pondok, KH. Muhammad Ali Al-Hafizd, menyambut hangat kedatangan rombongan Polri. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara penegak hukum dan penjaga nilai agama.

“Ulama dan wulannya (orang yang berwibawa), polisi dan masyarakat, dua sayap bagi perdamaian, jika salah satunya patah, maka burung bernama ‘keamanan’ tidak akan bisa terbang.” ungkap KH

Acara yang digelar pada Rabu (07/01/226) tersebut bukan sekadar seremoni. Di balik khutbah yang mengingatkan umat akan perjalanan malam suci Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, terselip pesan-pesan kekinian yang mendalam. AKP Ilham yang hadir dengan seragam lengkap namun senyum tak pernah lepas dari wajahnya, menyampaikan pesan kamtibmas kepada para santri muda.

“Anak-anak, di zaman digital ini, iman kalian diuji bukan hanya dengan narkoba, tapi juga dengan hoaks, kebencian, dan fitnah yang disebarkan melalui layar gawai. Sama seperti Nabi yang menemani Jibril dalam perjalanan malamnya, kalian membutuhkan pendamping: ilmu agama dan kesadaran bermedia sosial.” ujar AKP Ilham

Pesan itu disambut tepuk tangan meriah. Santri-santri muda, yang biasanya muncul dengan aparat kepolisian, kini duduk dengan antusias, sesekali mengangguk dan memperhatikan.

Bahkan seorang santri berani bertanya:

“Bagaimana caranya, Pak, Ibu, agar kami sebagai generasi muda bisa membantu polisi menjaga keamanan tanpa kehilangan nilai keislaman?”

AKP Ilham tersenyum, dengan menjadi panutan, dengan tidak menyebarkan fitnah, dengan melapor jika melihat sesuatu yang mencurigakan, itu semua adalah jihad kecil di jalan kebaikan.” kata AKP Ilham

Di akhir acara bantuan, Polres Maros memberikan bantuan sosial: beras dan telur, kebutuhan dasar yang akan menjadi santapan harian ratusan santri. Bukan nilai materinya yang paling berarti, tetapi makna di baliknya: Polisi hadir bukan hanya saat ada masalah, tapi juga saat ada kesempatan berbagi.

Acara ditutup dengan doa bersama, ulama dan petugas polisi berdiri berdampingan, tangan terangkat ke langit, memohon keselamatan bagi bangsa, ketentraman bagi masyarakat, dan kekuatan bagi para penjaga hukum dan nilai.

Di tengah doa yang khusyuk, terdengar isak tertahan dari seorang kiai tua yang berbisik, “Semoga tangan-tangan yang selama ini memukul, bergantian memeluk, dan kekuatan yang dulu ditakuti, kini dirindukan karena kebaikannya.

Sesi foto bersama pun diambil, tidak ada jarak, tidak ada formalitas yang kaku. Hanya senyum, jabatan tangan, dan latar belakang bendera merah putih yang berkibar seirama dengan panji-panji dakwah. Ini bukan sekedar silaturahmi, tapi silaturrahmat — penyambungan kasih sayang yang lahir dari kesadaran bahwa keamanan dan keimanan adalah dua jantung yang harus selaras.

Di Maros, di bawah bayang-bayang pesantren dan kaki-kiaki pejuang hukum, sebuah pesan terlantun dengan jelas: Perdamaian bukan lahir dari senjata, tapi dari saling menghormati, saling memahami, dan saling mendoakan.

Dan mungkin, itulah yang sebenarnya diajarkan dalam perjalanan Isra Mi’raj: bahwa dari Bumi ke Langit, yang paling penting bukanlah kecepatan, tapi niat suci untuk kembali membawa cahaya — bagi semua.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *