Takalar, SulSel — Proyek revitalisasi di SDN INPRES 162 KAMPUNG BERU TAKALAR, yang seharusnya meningkatkan fasilitas pendidikan, kini menjadi sorotan tajam setelah muncul dugaan praktik korupsi dan pembangunan asal-asalan. Sejumlah pihak menduga proyek ini telah menjadi “ajang korupsi” bagi oknum di lingkungan sekolah, dengan kerugian yang sangat mungkin berdampak pada keselamatan dan kualitas belajar siswa.
Kecurigaan ini menguat lantaran penggunaan material yang dinilai di bawah standar. Sumber di lapangan menyebutkan bahwa pemasangan Plafon dan atap digunakan jauh dari spesifikasi material bangunan yang layak, menimbulkan kekhawatiran akan daya tahan dan keamanan jangka panjang.
Menanggapi dugaan serius ini, Irwan selaku ketua LPR, mendesak adanya investigasi menyeluruh dan pertanggungjawaban dari pihak terkait.
”Kami melihat ada indikasi kuat penyelewengan dalam proyek ini. Jika benar materialnya di bawah standar, ini bukan hanya soal kerugian uang negara, tetapi juga mengancam masa depan siswa karena fasilitas yang tidak layak,” ujar irwan sabtu (8/11/25).
Ia menekankan bahwa dana revitalisasi yang diterima Kabupaten Takalar seharusnya digunakan secara maksimal dan transparan untuk memastikan fasilitas pendidikan dapat berdiri kokoh dan berkualitas, sesuai dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden.
”Pihak sekolah harus segera memberikan klarifikasi dan pertanggungjawaban, aparat penegak hukum kami desak untuk segera mengusut tuntas dugaan korupsi APBN TAHUN ANGGARAN 2025 yang sudah lama menjadi isu, termasuk yang terjadi Di sdn inpres 162 kampung beru. Jangan sampai revitalisasi ini justru menjadi bukti kegagalan integritas,”.






